
JAKARTA, KOMPAS.com -Memasuki tahun 2026, wajah properti di koridor timur Jakarta, khususnya Bekasi, semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi hunian paling kompetitif bagi kelas menengah.
Tak lagi sekadar menjadi kota penyangga, Bekasi bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi mandiri yang ditopang oleh integrasi kawasan industri raksasa dan masifnya pembangunan infrastruktur transportasi.
Fenomena menarik muncul di tengah pergeseran perilaku konsumen milenial dan profesional muda: rumah siap huni atau ready to move kini menjadi primadona. Konsumen tak lagi mau berjudi dengan waktu pembangunan yang lama atau biaya renovasi yang membengkak; mereka menginginkan kepastian fisik bangunan yang bisa langsung ditempati pasca-akad kredit.
Daya Beli Terjaga dan Stimulus Pemerintah
Optimisme pasar di Bekasi tahun ini tidak muncul begitu saja. Pertumbuhan ekonomi lokal yang stabil serta kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bekasi tahun 2025 yang signifikan menjadi motor penggerak daya beli.
General Manager Harmoni Park Group, Ardian Hendra, menyebutkan bahwa kenaikan upah tersebut memberikan dampak berantai pada sektor properti komersial.
Namun, katalisator utamanya tetaplah intervensi kebijakan pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto.
“Penghapusan PPN Ditanggung Pemerintah serta pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sangat membantu masyarakat. Berbagai insentif ini dapat memangkas beban pajak pembelian rumah hingga sekitar 16 persen dari total nilai transaksi,” ujar Ardian Hendra di Bekasi, Kamis (12/2/2026).
Rinciannya, pemangkasan BPHTB sebesar 5 persen dan PPN sebesar 11 persen memberikan ruang finansial yang lebih lebar bagi pembeli rumah pertama untuk mengalokasikan dananya pada cicilan bulanan atau kebutuhan pokok lainnya.
Mengapa Rumah Siap Huni Jadi Rebutan?
Desain rumah modern dengan gaya apapun, namun masih berupa gambar brosur alias inden, punya peluang lebih kecil untuk dilirik konsumen. Terlebih rumah untuk kelas menengah bawah.
Konsumen saat ini, seperti Indah (35), seorang profesional dengan penghasilan menengah, mengaku faktor “siap huni” adalah penentu keputusan, bukan inden.
“Yang paling menyenangkan, rumahnya sudah siap huni tanpa perlu renovasi. Begitu serah terima, kami bisa langsung tinggal. Ini sangat membantu menjaga arus kas rumah tangga karena cicilan yang ditawarkan pun sangat kompetitif,” ungkap Indah.
Bagi milenial, rumah siap huni berarti efisiensi biaya. Mereka menghindari pengeluaran tambahan untuk tukang atau material bangunan yang harganya terus berfluktuasi.
Pengembang merespons tren ini dengan membangun unit yang sudah dilengkapi fasilitas penunjang seperti kanopi, jaringan internet, hingga pendingin ruangan (AC) sebagai standar paket penjualan.
Bekasi Utara Semakin Terkoneksi
Selain faktor siap huni konsumen juga mempertimbangkan konektivitas. Kawasan Bekasi, khususnya bagian Utara, yang sebelumnya dianggap cukup jauh, kini semakin “dekat” berkat Tol Cibitung–Cilincing.
Akses menuju Jakarta Utara hanya memakan waktu sekitar 20 menit, sementara menuju Pelabuhan Tanjung Priok hanya 30 menit.
Integrasi ini menjadi sangat krusial bagi profesional muda yang bekerja di Jakarta namun memilih tinggal di Bekasi demi mendapatkan kualitas bangunan kelas real estate dengan harga yang masih di kisaran Rp 300 juta hingga Rp 800 jutaan. Dengan kombinasi matang antara pertumbuhan ekonomi wilayah, dukungan fiskal pemerintah, dan strategi produk yang berfokus pada kesiapan unit, Bekasi diyakini akan tetap memimpin pasar hunian penyangga Jakarta sepanjang tahun 2026.